Sabtu, 20 September 2008

Hikmah

Malam tadi saya mengikuti pengajian di Masjid Duta Mas Batam oleh Ustadz yang cukup ternama dari Jakarta khususnya karena beliau berani membangunkan umat islam tentang bahayanya paham dan aliran2 sesat bagi akidah. Materinya bagus yaitu tentang Nabi-nabi palsu, tetapi penyampaiannya kurang bagus karena menurut saya Ustadz tersebut kurang gaul sehingga kosakatanya sangat kurang sehingga berkesan membosankan. Kalau saja sedikit mau membaca atau melihat bahasa sehari-hari mungkin kosakata yang dimiliki akan semakin banyak dan pengungkapan materinya jadi lebih menarik.

Yang kedua, penyampaian materi tidak sistematis.
Kalau saja Ustadz tersebut menyusun dulu session plan materi yang akan disampaikan, mungkin hasilnya akan sangat bagus. Tidak semua audien sama pemahamannya tentang suatu masalah, sehingga manurut saya Ustadz tersebut paling tidak harus menyusun session plan sebagai berikut :
1. Pembukaan (pasti lah yau)
2. Pengertian (jelaskan dulu apa yang dimaksud dengan nabi palsu)
3. Ciri-ciri nabi palsu (uraikan kira-kira apa aja sih yang ada pada nabi tersebut sehingga dikatakan palsu)
4. Bahaya nabi palsu (uraikan apa bahayanya bagi umat dengan datangnya nabi palsu tersebut)
5. Ancaman untuk nabi palsu dan/atau pengikutnya (jelaskan ayat atau hadits-hadits Rasulullah yang menjelaskan tentang balasan yang akan diterima oleh orang yang mengaku nabi atau orang-orang yang mengikutinya.
6. Kemudian baru kasih contoh2 nabi palsu dan jelaskan kenapa nabi tersebut dikatakan palsu.

Sistematika ini perlu disusun karena apa yang disampaikan Ustadz tadi malam sangat2 tidak masuk ke pikiran. Beliau hanya mengatakan bahwa nabi palsu itu ada sejak menjelang diutusnya Rasulullah, pada saat kenabian Rasulullah, dan setelah kenabian Rasulullah sampai saat ini. Kemudian Ustadz menyebutkan contoh nabi palsu pada jaman rasulullah, tapi gak menjelaskan kenapa dia dikatakan palsu, apakah membawa ajaran yang baru, atau karena menentang Rasulullah, atau karena apa? Beliau memang menjelaskan bahwa Musailamah al-Kadzdzab mengirim surat ke Rasulullah dari rasulullah, tapi nggak menjelaskan tentang ajaran Musailamah. Juga mengatakan bahwa ada juga nabi palsu namanya Saja' yang kemudian dinikahi Musailamah tetapi akhirnya meninggalnya dalam keadaan muslim yang baik, tetapi apa ajaran yang disampaikan oleh Saja tidak diuraikan sehingga audien meraba-raba, sebenarnya kesesatan mereka itu apa?

Yang ketiga, kurang nyambung antara pokok bahasan dengan cerita yang dibawakan, atau mungkin sebenarnya nyambung tetapi karena kendala bahasa tadi jadi terkesan tidak ada hubungan.
Sebagai contoh, tiba2 Ustadz menyampaikan tentang tradisi ruwatan yang marak belakangan ini (dan hal ini sepertinya yang memicu ketidakpuasan sebagian audiens). Saya tidak bisa menangkap benang merah antara topik bahasan mengenai nabi palsu dengan tradisi ruwatan yang terjadi belakangan ini. Disebutkan bahwa ruwatan adalah tradisi jawa untuk menyenangkan bethorokolo, dan seterusnya. Kalau untuk menjelaskan penyimpangan2 akidah yang terjadi di masyarakat dewasa ini mungkin hal ini bisa dimengerti tetapi dengan topik yang sedang dibahas sepertinya tidak ada korelasinya.

Terus terang saya tidak begitu paham juga dengan bahasa dakwah yang katanya harus disampaikan dengan cara hikmah, tetapi rasanya sangat bijak kalau Ustadz tersebut dalam menyampaikan materinya dilakukan dengan bahasa yang baik, yang santun sehingga tidak menyinggung siapapun. Banyak kok Ustadz yang menyampaikan materi ceramah yang isinya menurut saya jauh lebih keras dibandingkan yang disampaikan Ustadz semalam tetapi semua audiens malah menanggapinya dengan tertawa, padahal menurut saya si audiens sedang menertawakan dirinya sendiri. Dalam memberikan contoh2 mungkin langsung mengena ke audiens tetapi dengan gaya bahasa yang bagus audiens tidak merasa tersinggung bahwa dibuat tersenyum.

Jadi, masih menurut saya, Ustadz harus mempelajari kembali bahasa2 yang bijak sehingga dalam penyampaikan dakwahnya tidak menyinggung siapa2 tetapi juga jangan tidak fokus.

Wallahu a'lam bish-shawab
astaghfirullah al-'adzim