Rabu, 06 Agustus 2008

Bersyukur

Sekitar tiga minggu yang lalu tepatnya tanggal 20 Juli 2008 putriku yang kedua "Nisrin" 5 tahun 8 bulan masuk rumah sakit karena DBD. Aku terpaksa pulang ke Jakarta karena tempat kerjaku di luar kota. Sebenarnya aku sudah punya tiket PP untuk hari Jum'at 25 Juli dan kembali Minggu 27 Juli, dan hal ini biasanya hampir rutin 2x seminggu aku lakukan untuk pulang melepas kerinduan terhadap keluarga terutama si kecil jagoanku "Hanief" yang baru berumur 1 tahun 9 bulan (anak ketiga dari saat ini tiga bersaudara) yang sedang lucu-lucunya. Tetapi karena rasanya tidak mungkin aku biarkan istriku menanggung kesulitan sendiri maka aku geser tiket pulangku menjadi tanggal 21 Juli.
Setelah Nisrin pulang dari rumah sakit tanggal 24 Juli, ponakanku yang menjadi tanggunganku juga sakit dan sore itu juga aku antarkan ke rumah sakit, yang akhirnya dirawat juga. Oleh karena itu aku jadi cuti 8 hari kerja. Karena sisa cuti tahunanku tinggal 3 hari, maka yang lima hari aku cuti alasan penting, dan sayangnya di instansiku cuti apapun selain cuti tahunan akan diberikan potongan tunjangan yang besarnya sama dengan kalau tidak masuk tanpa alasan yaitu 5% per hari (atau 100% kalau sat bulan tidak pernah masuk) dan 1,25% untuk terlambat atau pun pulang cepat. Jadi potongan penghasilanku bulan ini sebanyak 25% + 1,25% karena hari senin aku cuma absen pagi, ditambah 1,25% karena pertengahan bulan lalu aku terpaksa terlambat. Jadi total 27,5% potongan penghasilanku. Aku tidak merasa sedih atau merasa kehilangan....

Empat hari yang lalu anak tetanggaku "Irul" yang berumur 5 tahun sakit dan harus dibawa ke rumah sakit. Dia sudah panas dua hari tetapi orang tuanya tidak membawanya ke rumah sakit karena tidak ada biaya. Sebenarnya waktu awal sakit orang tuanya punya uang tetapi sudah terlanjur dibelanjakan untuk barang dagangan kedai kecilnya. Akhirnya mereka cari pinjaman kesana kemari tetapi belum dapat, dan alhamdulillah akhirnya sampai juga ke rumahku menemui istriku.
Alhamdulillah karena biasanya aku memang meninggalkan uang belanja dalam bentuk cash sehingga istriku bisa memberikan bantuan walaupun bentuknya pinjaman.

Aku jadi lebih berpikir.....
Mungkin selama ini aku kurang bersyukur...
Aku yang tiap bulan mendapat gaji, dan ketika anak dan ponakanku sakit tinggal bawa saja ke rumah sakit tanpa harus cari pinjaman ke sana ke mari untuk biaya berobat....
Mungkin aku kurang berzakat dan berinfak...
Walaupun aku sudah menanggung biaya sekolah adik istriku dan kuliah ponakanku tapi apa itu sama dengan pemenuhan kewajiban berzakat???
Aku jadi bertanya-tanya
Aku bandingkan dengan tetanggaku...
ketika anaknya sakit tidak bisa langsung membawanya ke rumah sakit
sementara aku... Walaupun jumlahnya mungkin tidak seberapa tetapi aku masih punya tabungan yang sewaktu-waktu dapat digunakan
Bagaimana seharusnya pemenuhan kewajiban zakat..........????

Tidak ada komentar: